Tittle: 2nd Half
Au: Tatsuko Ogata
Genre: Shonen Ai,Angst
Rating: Asal bijak menilai,semua boleh baca
Pairing: Reituki,Aoruha
Disclaim: The Gazettenya bkn punya sy,tp cerita ini milik sy,copas diizinkan slama mencantumkan sy sbg author.
summary: Hidup adalah pelangi,yg muncul setelah hujan dan badai
note: diupload via hp,hrp maklum kalo acak2an
======
prologue
Takanori Matsumoto,lebih akrab dipanggil Ruki,seorang siswa kelas 2 Smu terkenal dikota Osaka,bertubuh pendek untuk anak seusianya dan memiliki paras yg luar biasa mencolok.Anak yg ramah dan ceria meski dlm bidang akademis ia sm sekali tak menonjol.
ia adlh tokoh utama dlm kisah kali ini.
apa yg harus diceritakan dari pemuda mungil itu? apa yg menarik drnya?
Ruki tersenyum saat memandang keluar kelasnya.
Mendung dan gelap.
sepertinya akan hujan.
"Ruki! ngelamun pagi2 gini.." Hiroto menepuk bahunya dan duduk disebelahnya.
"ada pelangi"
"eh?"
Chappy 1
Hujan dan petir yg menggelegar membuat suasana kelas hari itu sedikit menyeramkan dan dingin. Angin yg bertiup menembus ventilasi jendela kelas terasa dingin dan tak bersahabat. Beberapa siswa mengeratkan kancing blazer mereka,berharap angin tak mampus menyentuh kulitnya.
Ruki menguap dan meletakan kepalanya diatas meja belajarnya.Penjelasan Gackt sensei mengenai molekul senyawa tanpa mempedulikan cuaca buruk diluar dan murid2nya yg terlihat tegang oleh suara petir,membuat ruki sdikit mengantuk.
Pandangan Ruki jatuh pada 2 meja disamping depannya.
Pemuda berambut pirang yg hidungnya tertutup noseband putih bahkan sudah jauh terlelap kealam mimpinya.
Ruki tersenyum.
Benar kata pepatah, jika kau ingin melihat wujud malaikat,maka lihatlah wajah orang yg kau sayang saat dia tertidur.
Angel?.
Ruki terkikik pelan.
Membayangkan berandalan itu memiliki sayap malaikat sungguh konyol.
Ruki terus memandanginya dlm bisu.
Pletak!
"ITTE!"
Reita spontan terlonjak saat penghapus papan tulis mendarat mulus didahinya.
Kelas tertawa riuh,trmasuk Ruki.
"Mimpimu indah eh,Suzuki Akira-san?" Kata Gackt-sensei dingin.
"Ehe..."
"Temui aku sepulang sekolah dikantor guru!"
"Baik,sensei..." Reita pasrah. Memang tidak mungkin mengindari hukuman Gackt-sensei yg terkenal angker dan tegas. Namun Gackt adalah guru populer disekolah itu karena tampan dan gagah. Tak sedikit siswi sekolah itu yg diam2 membentuk fans clubnya.
Reita kembali duduk dan menyempatkan diri menempelkan kertas bertuliskan :
"Peluk dan cium aku" dipunggung Hiroto yg terkenal agak lemot sebagai balasan karena Hiroto menertawainya paling keras.
Reita mengalihkan pandangan kebarisan belakang dan matanya bertemu dengan mata Ruki.
Pemuda bernoseband itu mengedip dan meletakan telunjuk dibibirnya,isyarat agar Ruki jaga mulut.
Ruki hanya tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.
====
Langit tampaknya enggan menghentikan tumpahan air sucinya ke bumi,membuatnya basah lembab.
"Rukichan!" seorang pria dengan rambut panjang diikat kebelakang ala samurai jepang,sisi2 kepalanya ia menjalin rambut2 hitam indahnya hingga terlihat lbh keren,memeluk ruki erat2.
"Kai! lepaskan.." Ruki memberontak dlm pelukan Kai,nama pemuda itu.
"Tidak kekantin? Hari ini sepertinya mereka menjual makanan western,siapa tahu ada spagetty kesukaanmu.." Kai duduk dihadapan Ruki,mengibaskan rambut indah alaminya yg membuat para wanita iri.
"Tidak ah. Uang jajanku sudah habis." Keluh Ruki.
"Jangan bercanda,Rukichan. Ini baru tanggal 10 dan kau sudah kehabisan uang jajan?Memangnya kau beli apa kemarin?" Kai menggeleng tak percaya.Ruki curiga,gelengan itu hanya tindakan bodoh kai agar rambutnya bergoyang indah.
"Eee..makanan?" Ruki menjawab ragu.
Uang jajannya memang habis ia pakai membeli makanan,tp bukan krn ia boros.krn uangnya hanya sdkt.
Uang jajannya sangat sedikit,nyaris tak layak disebut uang saku.
Ruki tidak miskin,kedua orang tuanya bekerja,ayahnya adalah kepala bagian yg sebentar lagi akan dipromosikan untuk naik jabatan,ibunya berbisnis dengan teman arisannya mengelola tempat kerajinan tangan dan kakaknya,Wataru, merantau ke tokyo sebagai musisi.
Tetapi.. ah,Ruki malas membahas kondisi keluarganya.
"Anggap saja aku telah menghabiskan uang sakuku untuk makanan mewah kemarin." Ruki berkata dengan nada tak ingin membahas lagi.Kai mengerutkan dahinya heran.
Kai kenal baik dengan Rukia,mereka bersahabat,setidaknya itulah yg Kai pikir.
Tapi anak pendek dihadapannya memang tak pernah bercerita apa2 tentang dirinya. Kai bahkan tak pernah diundang untuk datang kerumahnya,sebaliknya,Ruki sering main kerumah Kai kalau dia sedang suntuk.
"Lalu siang ini kau tidak akan makan?"Kai bertanya kasihan.
"Makan,tentu saja."
"Hee?"
Tak lama, Saga,teman sebangku Ruki melemparkan sebuah roti melon kepadanya.
"Jatahmu!" Saga berkata,dan Ruki mengacungkan ibu jarinya,mengucapkan terimakasih pada Saga yg kembali melesat keluar kelas.
"Jatah?"Kai bingung.
"Aku makan siang menunggu sumbangan dari para wanita yg digoda Saga untuk membayarinya makanan."
"Hah?"
"Bukan hanya aku,saking banyaknya yg suka sama Saga,sekelas ini rutin dapat jatah roti melon tiap siang darinya." ujar Ruki enteng. Ia menyobek bungkus roti dan mulai melahapnya penuh perasaan.
Kai tercengang. Ia memang berada dikelas yg berbeda dari Ruki,tak menyangka bahwa kelas sahabatnya begitu aneh mengatasnamakan solidaritas dan persahabatan antar lelaki.
"Uwaa.. Uru-senpai berulah lagi!" seorang siswa berteriak dr balkon kelas,menunjuk ke arah lapang. Serentak seluruh siswa yg ada dikelas Ruki,termasuk Kai,menghampiri jendela balkon melihat pertunjukan yang menarik perhatian itu.
Dilapangan tampak Takashima Kouyou atau Uruha,siswa jangkung kelas 3 yg terlalu cantik dan sexi untuk seorang pria,berteduh di luar ruang ganti club basket serya meneriaki seorang gadis yg berdiri ditengah lapangan diantara hujan dengan alat speaker handle ditangannya. Gadis itu,Ruki mengenalnya sebagai Ayumi Hamasaki,siswi kelas 1 yg cantik,menangis hampir histeris.
Disebelah Uruha,berdiri Shiroyama Yuu, akrab dipanggil Aoi, Kelas 3, berpierching dan sahabat sejoli Uruha. Hampir tak mungkin menemukan Uruha tanpa Aoi.
Aoi lumayan berkuasa disekolah itu,ayahnya ketua komite sekolah,ibunya donatur terbesar sekolah. Uruha tak kalah berkuasa disekolah itu,dia anak tunggal kepala sekolah mereka,Hizaki Takeshima yg sedikit punya selera dalam berpakaian yg tersohor dskolah itu. Tak heran,Uruha yg dipercaya menjadi ketua osis sekolah juga memiliki cara berpakaian yg bbeda dr siswa lain.
Ia trkenal karena memakai hotpants sbg celana sekolahnya.
Uruha memang unik,ia akan memakai celana pendek bahkan rok mini yg berbahan dan berwarna sama dengan celana panjang siswa yg resmi sebagai celananya,apapun yg bisa memamerkan paha mulusnya yg membuat setiap orang menelan ludah,menahan hasrat yg menggebu bila menatap kaki indah itu terlalu lama.
Ruki terus memperhatikan mereka.
"memang apa masalahnya,shiori?" tanya Ruki pada Shiori,siswa yg pertama berteriak.
"Hamazaki-san katanya melabrak siswi lain dikelasnya.Uruha tidak suka karena Hamazaki-san keterlaluan.Uruha-senpai kan jiwa keadilannya tinggi. Apa lagi yg dilabrak hamasaki-san adalah sekretaris osis yg kinerjanya diakui uruha-senpai." kata Shiori menjelaskan.
"Lalu knp Uruha-senpai bisa tahu?"
"Siapapun akan tahu kalau Hamazaki-san yg iri pada Yui-san lah yg mengunci Yui-san ditoilet tak terpakai,meninggalkannya bersama 3 ekor ular berbisa yg meskipun jinak tp tetap saja membuat Yui-san shock berat"
"tak kusangka,Uruha-senpai sampai semarah itu." gumam Kai.
"Peringatan bagi siswi lainnya." Shiori angkat bahu. "Yui-san memang nerd,old fashion dan pendiam,tapi dia baik dan pintar.Hizaki-sama dan Uruha-senpai memfavoritkan dia."
"Ah,dasar cewe. Kalau iri jadi masalah." Desah Kai. "Ruki,aku kembali ke kelas ya."
"Yo!."
Ruki melambai pada Kai yg berlari keluar kelas.
Ruki kembali mengunyah roti melonnya sambil berjalan menuju kursinya setelah melempar pandangan tak rela kearah paha Uruha yg mulus.
"Ruk-pyong!" Hiroto menghampirinya dengan menggebu.
"Pon? kenapa kau terengah2 begitu?"
"Kau tahu kemana si pesek?"
"Pe-Pesek?"
"Si Reita! Reita!"
"Hoo.. aku tidak tahu kemana Suzuki-san." Ruki berpikir. Dia memang tidak melihat Reita sepanjang istirahat siang itu,Reita langsung berlari keluar sesaat setelah bel istirahat berbunyi besama Sujk,Leda,dan Kitamura Ken -----> kelompok yg aneh,haha.
"Awas kau pesek,kalau ketemu ku.."
Chappy 2
Hiroto terdiam seketika dngan mulut terbuka dan mata membola. Dia langsung berteriak dan mengejar Reita yg langsung kabur,batal masuk kekelas karena mendapati si gigi kelinci itu ada dikelas.
Ruki tertawa heran dan menghabiskan roti melonnya dalam sekali gigit. Perutnya masih lapar,tapi sudah tak ada yg bisa ia makan lagi dan sekarang ia haus.
"Ini untukmu."
Ruki mendadak kelu dlm keterkejutan yg berlebihan saat seseorang yg disanjungnya secara rahasia menyodorkan sekaleng kopi panas kepadanya.
"A-arigatou,Suzuki-san.." Ruki berkata pelan,membuka kaleng kopi itu,menyeruput isinya.berharap kopi panas itu dapat menelan rasa gugupnya.
ia tak mau dihadapan Reita ia bersikap seperti seorang gadis yg bertemu dengan cowo impiannya.
Dan sialnya,itulah yg ia rasakan sekarang.
Gugup.
"Kemana Pon?" tanya Ruki hanya agar ia tak terlalu diam.
Si noseband hanya nyengir jahil dan duduk dikursinya.
====
Ruki terdiam ketika seluruh siswa pulang kekediaman mereka masing. Hujan masih deras dan ia tak membawa payung.Berhujan2an jelas bukan pilihannya.
Ia terus melamun hingga tiba2 seseorang menepuk bahunya.
"Kau tidak pulang?" tanya Reita
"Suzuki-san..." Ruki nyengir gugup. Tiba2 ia gemetar saat Reita berdiri disebelahnya serya merangkul bahunya.
"Astaga,cuma kau yg memanggilku dgn nama keluarga. Rasanya seperti bicara dengan guru saja" Reita menggerutu.
"Ma-maaf.." kenapa Ruki minta maaf?. Ah sial,dia nervous level dewa sekarang.
"Hahaha.. kau benar2 aneh,nee.. Ruki-kun. Hmm..kupanggil Taka-chan aja deh." Reita mengacak2 rambutnya gemas. Ruki blinked.
"E..Etto.."
"Kau boleh memanggilku Ue-chan." Reita menunjuk dadanya. "Cuma kau yg boleh memangilku begitu ya. Ah,kita memang jarang sekali bicara berdua ya."
"Yah,kau selalu kekelas lain bila istirahat siang"
"Hmm,kalau begitu,bsk ayo gabung denganku."
"Gabung dnganmu?"
"Iya. Kuperhatikan kau jarang sekali makan siang diatap bersama siswa lain atau main bola. Padahal kau cukup populer,tp aku baru mengenalmu sekarang."
"Kita memang tidak sekelas waktu kelas 1"
"Bukan itu intinya.Dikelas pun rasanya kita jarang sekali berkomunikasi ya. Apa kau tidak suka berteman denganku? kau terlihat akrab dengan yang lain,bahkan si Kai dari kelas sebelah."Reita pout."Apa kau benci padaku?"
"Eeh?!" Ruki merasakan wajahnya memerah saat tidak memahami kemana arah pembicaraan ini sebenarnya.
"Aku kan cemburu.."
Ruki terbelalak.
"Ahahaha..jgn horor gitu dong wajahmu." Reita menarik2 pipi tembem Ruki.
Dan si pemilik pipi hanya bisa mematung dengan wajah matang.
"Eh,Takachan,kau sakit? wajahmu merah sekali." Reita bertanya khawatir.
Ruki tersdar dari kepatungannya dan menggeleng.
"Kau yakin?"
Ruki mengangguk.
"Bagaimana dengan Gackt-sensei?" Ruki bertanya,mengalihkan pembicaraan.
Reita pout lagi.
"Aaargh! aku jd ingat si gay itu!" Reita mengacak2 rambutnya sendiri. Senyum Ruki merosot dari wajahnya.
"Gay?" Ruki mengerutkan dahinya.
"Iya, tadi aku ke kantor guru,dan tebak aku menemukan apa?"
"Apa?"
"Gackt-sensei sedang menggoda guru kesenian kita, Haido-sensei."
"Ehee.. Kau tukang gosip,Rei." Ruki tertawa.
"Bukan gosip! memang benar.Aku mendengarnya sendiri.Terus,ketika aku ketauan nguping,guru sok cakep itu malah menghukumku untuk mengerjakan seratus soal kimia,mati aku.. dan harus dikumpulkan lusa T_T"
"Begitu.."
"Aku geli sekali mendengarnya. Haha,siapa sangka guru paling populer dan gagah itu ternyata gay.." Reita tertawa.Ruki terdiam lagi.
"Memangnya kau normal,Rei?"
"Eh? Kau tidak?"
"Ih! Apaan sih!" Ruki memukul pelan bahu Reita.
"Hahaha.."Reita tertawa.
"Lalu kau akan menyebarkan temuanmu itu keseluruh sekolah?"Ruki bertanya.
"Apa aku ada tampang sebrengsek itu?"
"Ehe..tidak sih"
"Aku tidak suka mengganggu privasi orang.Tidak akan kusebarkan,dan kau juga jangan menyebarkannya oke.Lagi pula tidak adil,aku kan dihukum Gackt-sensei karena kesalahanku,masa aku harus balas menghukum Gackt dengan menyebarkan aibnya? Tidak jantan dan pengecut."
Ruki menatap mata Reita yg bersungguh2. Mata yg tajam dan lurus. Mata yg membuat Ruki tak pernah melupakannya barang sedetik.
"Ah,Hujannya tidak mau berhenti." Gumam Reita.
"Uhn.."
"Rumahmu kearah mana?"Tanya Reita. Ruki menunjuk arah selatan.
"Kita berlawanan arah ya. Aku kesana." Reita menunjuk arah sebaliknya."Kau bawa payung?"
Ruki menggeleng.
"Ini. Kau pakai punyaku.Besok kembalikan kalau sudah kering ya,dan besok kau harus membantuku mengerjakan hukuman dari Gackt sensei dirumahku ya.Dan kau harus memanggilku Uechan! Uechan!"
===
"Tadaima"Ruki membuka pintu rumahnya serya menutup payung yang dipinjamkan Reita padanya. Setelah menaruh payung biru itu ia taruh ditempat penyimpanan payung,Ruki melangkah masuk kedalam kamarnya,tak berkata apa2 pada wanita setengah baya yg sedang mengiris-iris sayuran didapur.Ibunya.
Ruki segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam. Celana panjangnya basah diujungnya,Ruk4 membukanya dan menggantungnya dipojok kamar agar kering oleh angin.Dibukanya kemeja putihnya dan ia berbaring diatas ranjangnya hanya mengenakan baju dalam dan boxernya. Menatap langit2 dan mengingat2 apa yg terjadi hari ini.
Reita yg dikaguminya membelikan kopi kalengan,mengajaknya bicara,memintanya memanggilnya dengan nama kecilnya dan meminjaminya payung sementara Reita sendiri hujan-hujanan.
Meski angin diluar berhembus begitu kejam, Ruki merasa hangat.
Idolanya memperhatikannya.
Ruki sangat menyukai Reita.Dan saat ini dia masih bimbang akan perasaannya sendiri.
apakah Ruki menyukai Reita sebagai seorang teman?.
Ruki tak akan pernah melupakan saat pertama ia melihat Reita.
Ketika itu upacara penerimaan murid baru,Ruki tersesat ketika harus berkumpul di aula karena luasnya wilayah itu.Saat ia sudah hampir putus asa,ia melihat seorang gadis sedang dikepung oleh 3 orang yankee. Jiwa keadilan Ruki bangkit. Ia hendak menolong gadis itu ketika tiba2 saja seorang pemuda bernoseband muncul entah dari mana seperti seorang pahlawan dicerita hero picisan dan menghajar semua yankee yg ada disana.
Ruki terpesona.
Tak pernah seumur hidupnya ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri seseorang yg sifat kasarnya dimanfaatkan dengan benar.
Padahal saat itu bukan Ruki yg ditolongnya. Mereka bahkan tidak saling mengenal.
Tapi entah kenapa,Ruki bs merasakan dadanya berdebar kencang.
Is that love?
Ruki berguling dlm tidurnya dan membenamkam wajahnya pada bantal kesayangannya.
Sampai detik ini, Ia bingung menentukan rasa apa yg ada dihatinya.
Ia menyukai Reita,ya. Tak ada sedetikpun yg ia lewatkan tanpa memikirkannya. Apakah wajar?
Ia seorang lelaki dan menyukai Reita yg juga seorang lelaki,sebagai seorang lelaki.Apakah itu wajar? tidak aneh?.
Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Bahkan terhadap Kai,yg sering memeluknya atau memperhatikannya.
Kalau pun,oke,anggaplah Ruki seorang gay,knp harus dengan Reita? Reita bukan bishonen cantik. Sebaliknya,Reita jantan sekali. Dan kenpa harus dengan Reita yg jarang bersosialisasi dengannya. Knp tidak dengan Kai atau Saga atau Hiroto atau misalnya Aya, siswa aneh yg mendedikasikan hidupnya untuk terlihat cantik dari pada tampan.
Kenapa Harus Reita yg tdk pintar dipelajaran? Lagi pula sbnarnya Ruki kan tidak dekat dengan Reita.
Ruki sighed.
Mou wakaranai...
itulah cinta.Mungkin
Chappy 3
Ruki mengerjapkan matanya saat telinganya mendengar seseorang meneriakan namanya dengan nada gusar.
Kesadarannya segera berkumpul memerintahkan otaknya untuk membangunkan tubuhnya yg sejenak tadi sempat tertidur.
"Taka! lama sekali kau turun!" Ibunya membentaknya.
"Tidur" Ruki menggumam pelan.
"Kau mencuri uangku,kan?!"
"Hah?"
"Kau yg mencuri uangku,kan?!" Ibunya menuduh.Ruki mengerutkan dahinya.
"Seingatku tidak."jawab Ruki dingin.
"Jangan bohong! Tunggu sampai aku bicara pada ayahmu!"
"Aku tidak pernah mencuri uang ibu! Uangnya dimana pun aku tidak tahu." Ruki mencoba untuk tenang,padahal didadanya ia merasa sesak luar biasa.
Dituduh seperti itu oleh ibunya sendiri membuatnya marah.
oke,mungkin ia sering mencuri rokok ayahnya,tp ia tak pernah mencuri uang. Apa lagi uang ibunya sendiri.
Tapi ia tahu,percuma membela diri,toh pada akhirnya ia akan tetap dihukum karena kesalahan yg tak pernah ia perbuat.
Begitulah orangtuanya. Nazi.Mengekang hidup dgn aturan yg mereka buat sendiri.
Hanya kami yg benar,kau selalu salah.
Seperti itu,membuat Ruki muak tinggal ditempat itu. Bukan hanya karena sering disalahkan tanpa sebab,tp juga karena ia sering dibanding2kan dengan kakaknya yg jauh lebih pintar,lebih sukses dan lebih baik darinya.Kebanggaan orang tuanya.
Sedangkan Ruki,hanya pecundang kecil dirumah,kambing hitam dan sasaran empuk pelampiasan kekesalan semua orang didalam keluarga.
"Aku tidak pernah mencuri uang ibu. Terserah ibu mau percaya atau tidak." Ruki berlari kekamarnya dilantai 2.
Ruki mengunci pintu kamarnya dengan nafas memburu dan DUAKH!.
Ia meninju pintu kayu kokoh itu.
Punggung tangannya sakit dan berdenyut,tapi ia tak peduli. Ia menyalakan music playernya, memutar lagu2 dari X-Japan dengan volume cukup kencang.
Dalam hatinya ia merasa takut. Ia takut bila ibunya benar2 mengadu pada ayahnya,maka Ruki harus benar2 mempersiapkan fisiknya untuk disiksa oleh ayahnya.
Petir menggelegar diluar sana. Dan jauh dilubuk hatinya, Ruki merasa sakit dan sedih.
===
Sudah lewat jam makan malam dirumah keluarga Matsumoto,tetapi Ruki belum berani keluar dari kamarnya,tak peduli perutnya sakit minta diisi.Ia terlalu marah dan takut untuk bergabung makan malam bersama orang tuanya.Dan ia lebih memilih kelaparan untuk hari ini.Lagipula ia sudah terbiasa.
Ia berharap sedikit dipedulikan,misalnya ibunya menyuruhnya turun untuk makan,tetapi tak ada yg memanggilnya hingga jauh tengah malam.
Dan ini adlh batang ke 6 rokoknya.
Kamarnya sudah sesak oleh asap rokok.tapi Ruki tahu,kalau ia keluar,maka ia akan babak belur dihajar ayahnya.
Tapi Ruki lapar.Hari ini semua makanan yg dimakannya sungguh tak cukup mengganjal perutnya.
Pukul 00.24am.
Mungkin orang tuanya sudah tidur.
Ruki mengendap2 keluar kamar menuju ruang makan.
"Sudah bangun,eh tuan pencuri.."
Ruki membeku.
Ternyata ayahnya belum tidur!.
Lampu menyala,dan tampaklah wajah menakutkan ayahnya menatap Ruki dengan amarah.
Ruki menundukan kepalanya.
"Aku.. Selamat malam,Tou-san.."Ruki menggumam.
"Ibumu kehilangan sejumlah uang,kau yang mengambilnya?" tanya ayah Ruki lancar.
"Tidak." Jawab Ruki pelan.
"Bukan kau? aneh sekali. Lalu siapa kalau begitu.Dirumah ini hanya ada kau dan ibumu kurasa."
"Aku tidak tahu,demi Tuhan ayah,bukan aku pelakunya! Mungkin ibu lupa menyimpannya atau-"
Ruki terperanjat saat tinju ayahnya melayang tepat ke pipinya.
Sakit.
Ruki kembali kekamarnya satu jam kemudian dengan luka memar di dadanya, banyak lecet akibat cambuk dari ikat pinggang ayahnya yg terasa panas dan perih dan memar2 lainnya yg tak bisa ia ingat bekas apa saja. Perutnya sakit,tapi rasa lapar itu telah hilang tergantikan oleh nyeri lain dihatinya.
Itulah hukumannya.
Hukum alam keluarga Matsumoto yg sering Ruki terima sedari kecil.
Dulu ia memang sering menangis,tapi kini tidak.Sikap keras kedua orang tuanya telah menghapus tabiat menangisnya.
Karena dia laki-laki.
Laki-laki harus kuat dan laki-laki tidak boleh menangis.
Ruki menghela nafas,mencoba berbaring,dan langsung berjengit karena punggungnya terasa amat perih dan nyeri.
Ia masih beruntung ayahnya tidak meninggalkan luka memar diwajahnya,Ruki jd tidak perlu repot2 menjawab tanda tanya teman2nya besok.
ah ya..besok ia diundang kerumah Reita untuk membantunya mengerjakan soal kimianya.
Tiba2 rasa sakitnya meluruh,menguap.
===
Pagi tiba.
Matahari cerah bersinar menyambut kicauan burung yg ceria mengawali hari mereka.
Ruki memasukan buku2 pelajarannya dengan cermat dan merapikan rambutnya dengan jarinya sambil bercermin.
Ah,wajahnya memang tidak sempurna.Pipinya tembem dan bentuk rahangnya aneh.Ruki merutuki dirinya sendiri.
Kemudian ia turun mengambil payung milik Reita yg ada ditempat payung,mengelapnya dengan saputangannya dan merapikannya.
Pukul 8.30am, kedua orang tuanya sudah pergi bekerja.Ruki terbiasa sarapan sendiri sejak dulu.Tak ada yg berbeda. Ia malah bersyukur setelah semalaman tanpa makan,akhirnya ia bs makan dengan tenang pula,meski hanya ada sedikit nasi dan sup miso sisa semalam.
Ruki bergegas setelah menghabiskan sarapannya dan mencomot 2 kotak rokok ayahnya.
Hmm..meskipun tahu selalu dicuri,tp ayahnya tak pernah memindahkan tempat persediaan lintingan beracun itu.
Ruki membatin,hari ini pasti menyenangkan dan tersenyum kecil.
Chappy 4
Ruki buru2 mengejar sosok Reita yg baru saja memasuki gerbang sekolah.
"Rei!"Panggilnya tersenggal.
"Takachan!"Reita menghentikan langkahnya dan tersenyum manis."Sudah kubilang panggil aku Uechan."
"Ha-Haik, Uechan.." Ruki terengah2 memegang bahu Reita.
"Kenapa lari begitu,kita kan sekelas."Reita heran.
"Anoo.. aku mau mengembalikan payungmu sebelum aku lupa.Kau tidak kena flu kan kemarin hujan2an?"Ruki brtanya khawatir serya menyodorkan payung biru Reita.
"haha..memangnya aku wanita apa,gitu aja sakit."Reita terkekeh.
"Syukurlah,aku merasa tidak enak kemarin"
"Biasa saja,sebagai teman wajar saling membantu."
Ruki mengangguk.
"Sankyuu."
"Oh iya,tapi hari ini kau bisa datang kerumahku kan? bantu aku mengerjakan soal kimia Gay-maksudku Gackt-sensei oke."
"Tentu.Tapi aku tidak jago Kimia..mungkin tidak banyak membantu."
"Setidaknya nilai kimiamu diatas nilaiku."
Ruki mengangguk dan tersenyum lebar.
Pelajaran hari itu dimulai dari Geografi. Hikaru Utada-sensei yg masih muda mengajar dengan penuh keanggunan. Tapi tetap saja membuat Reita mengantuk dan Ruki merasa lelah yg aneh. Rasanya penjelasan guru singel cantik tersebut tak mampu membuat Reita bersemangat.
Reita menolehkan kepalanya kebelakang.
Dipandangnya Ruki berkutat dengan catatannya meski berkali2 meringis memegangi ulu hatinya.
Reita terkikik dlm hati.
Kalau dipandang dari sini,si Matsumoto Takanori itu imut sekali,mirip anak kecil.
Tiba2 saja Ruki mengangkat tangannya,membuat Hikaru-sensei menghentikan penjelasannya.
"Ada apa,Matsumoto-kun?"tanya guru cantik itu seperti bernyanyi.
"Saya.. Saya permisi ketoilet."
"Ya,jangan lama2."
Ruki mengucapkan terima kasih dan berlari keluar menuju toilet.
Reita masih menatap bangku Ruki,melemparkan pandangan sejenak keluar dan menguap lagi.
===
Ruki masuk kedalam salah satu shaft toilet dan mengunci diri disana.Perutnya terasa melilit dan mual sejak tadi pagi membuatnya mengeluarkan keringat dingin yg aneh dikelas tadi.Kalau tidak juga membaik,mungkin dia harus ke Uks minta obat penahan nyeri.
Ruki hendak keluar dari toilet ketika tiba2 saja dia mendengar 2 orang siswa masuk kedalam dengan berbisik2 tertahan.
"Kalau ada yg lihat?"Suara yg ini tinggi dan sedikit cempreng.
"Aku sudah memasang tulisan,sedang dibershkan,tidak akan ada yg masuk.lagi pula ini tengah jam pelajaran."Suara yg satunya lebih berat.
"Hmm..kau memang nakal,nee.. Aoi-kun."
"Salahmu sendiri kenapa kau begitu menggoda hari ini dengan memperpendek celanamu,Uruha-sama,ketua osisku.."
Hee?!
Ruki terbelalak menyadari siapa diluar shaft toiletnya itu.
Apalagi sekarang ia mendengar desahan,suara berdecap dan erangan Uruha.
Sebenarnya mereka ngapain?!.Batin Ruki bergejolak.
Ruki bisa merasakan tangannya gemetaran.
Jadi ketua osisnya,Uruha-sama yg exhibis ada affair sama karibnya sendiri, Aoi-sama,penguasa sekolah?!.
Tapi masa sih mereka melakukan itu ditoilet sekolah???
Ruki menutup telinganya sendiri saat desah dan erangan Uruha semakin mengeras.Wajahnya merah membayangkan apa yg mereka lakukan dibalik toilet sana xD
"Aoi..nghhh~"
"Uru.. you are so..aah.. sexy honey~"
Begitu seterusnya hingga Ruki yg mengunci diri disalah satu shaft toilet merinding dan merasa panas sendiri.
Setengah jam serasa seabad lamanya hingga tiba2 Uruha meneriakan nama Aoi dengan tersenggal2,dan Suasana hening.
Apa mereka sudah pergi?
Ruki membatin. Sang Ketua Osis dan kloninya pasti tidak akan senang kegiatan bercintanya didengar meski tidak sengaja.
Ruki,membuka pintu shaft toilet dgn pelan2.
"Eee.."Ruki mematung.
Uruha melepaskan bibir Aoi menyadari ada anak lain ditoilet itu.
"Wah wah.."Gumam Uruha.
Aoi menatap tajam Ruki yg menciut dipojokan. Ada tatapan mengintimidasi dari pemuda berpierching itu.
Aoi melepaskan pelukannya pada Uruha dan hendak mendekati Ruki,tapi langsung ditahan Uruha.
"Kau mendengarnya?"tanya Uruha diplomatis.
Berbohong pun percuma.
Ruki mengangguk.
"Siapa namamu?"
"Matsumoto Takanori."
"Ruki dari kelas 2 ipa 3 yah? hmm..kawaii!" Uruha memeluk Ruki gemas.
"Eee.."Ruki berusaha melepaskan diri dari Uruha.Paha Uruha yg terekspos jelas membuatnya jengah.
"Lepaskan! ugh! aku bukan gay!"
Uruha blinked.
"Hmmmft..Bwahahaha!" Aoi meledak dalam tawa sementara Uruha mematung dlm posisi setengah memeluk Ruki.
Ruki berkutat melepaskan diri dari tubuh wangi uruha.
"Tidak sopan,kau pendek. Mengatai orang seperti itu.Memangnya kau pikir aku gay?"
"Eh,kalian bukan?"tanya Ruki tak yakin.
"Bhuu~ maaf deh kalau mengecewakanmu." Uruha melepas pelukannya pada Ruki dan ganti merangkulkan lengannya dileher Aoi dengan manja.
"Aku bukan gay."kata Uruha.
"Aku juga bukan gay."kata Aoi.
"A-apa?! tapi kau-dia..kalian.."Ruki terbata.
"Hmm..bagaimana menjelaskannya ya.."Uruha tampak berpikir.
"Uruha itu kekasihku.Kami saling mencintai."Aoi menjelaskan singkat.
"Katanya kau bukan gay,tapi kalian berpacaran"Ruki emosi karena merasa dipermainkan oleh mahluk-mahluk cantik dihadapannya.
"Karena Uruha berbeda.Kami tidak tertarik pada pria lain.Aku hanya tertarik pada Uruha,begitu pun sebaliknya."
Ruki terdiam.
Uruha terkekeh dan memeluk Ruki sekali lagi.
"Ah~ Kau imut sekali."Ujarnya gemas mengeratkan pelukannya pada Ruki."Aoi,aku mau dia.."
"Uru,dia tidak dijual."Aoi tersenyum.Uruha terlihat kecewa.
"Aah..mengecewakan.Padahal dia imut sekali."Uruha memanyunkan bibir kritingnya.
"Sayang sekali ya~"
"Kalau kau bukan gay,cepat lepaskan aku!"Ruki menapik tangan Uruha yg hendak mencubiti pipinya lagi.
"Aw! Aoi,dia galak banget!" Uruha melepaskan Ruki serya menggosok2 punggung tangannya yg kena tapikan Ruki.
"Dari mana kalian tahu aku dipanggil Ruki?"
"Ah,kau sekelas dengan Reita kan?Kami kenal Reita."Kata Uruha sederhana."Aoi,aku mau dia."
"ck. Baiklah,terserah kau saja Uruha-sama."Aoi membungkuk ala pangeran ingin mengajak sang putri berdansa.Lalu kedua pemuda semampai itu menggaet dikedua sisi lengan Ruki membuat Ruki panik.Lalu mereka menyeret Ruki yg meronta2 keluar dari toilet itu.
"Lepaskan aku! Hei!"
Uruha dan Aoi menulikan telinga,terus menyeret Ruki sepanjang lorong sambil menyanyi2 kecil.Pemberontakan Ruki dan nyanyian Uruha menarik perhatian seluruh siswa yg kelasnya mereka lewati,tp sepertinya Uruha tidak peduli.
"Konichiwa!"Uruha membuka pintu kelas Ruki dengan riang,membuat seisi kelas kaget.
"Uruha-chan?"
"Hikaru-sensei,anak ini ada urusan denganku, mohon izinnya.."
"Hei!"Ruki hendak memprotes.
"Oh,matsumoto-kun nee?Tentu saja,kau boleh membawanya Uruchan."Hikaru-sensei tersenyum.Uruha mengucapkan terima kasih dan kembali menyeret Ruki jauh menuju ruang osis.
"Yui-san,kau boleh istirahat."Uruha tersenyum pada seorang gadis yang sibuk mengetik sesuatu di laptop milik osis.Gadis itu tersenyum gugup dan membereskan pekerjaannya dan mengucapkan terimakasih lalu segera keluar dari ruangan yg membuat Ruki tercengang.
Ruangan osis ini terlalu mewah dan berlebihan menurut Ruki.
Bertemakan renainsance,berlapis wallpaper merah yg antik dan ada sebuah pigura besar berisikan foto diri kepala sekolah mereka, Hizaki Takashima menggunakan gaun kerajaan seperti biasanya.Wajahnya yg cantik tersenyum misterius dan tatapan matanya mirip sekali dengan putranya,Uruha.
Siapapun tidak akan menduga mahluk cantik dipigura itu adalah lelaki tulen.
"Kalian sebenarnya mau apa?"Ruki bertanya,mengalihkan perhatiannya dari foto Hizaki pada 2 orang yg saat ini duduk dengan kaki diatas meja.Pamer paha.Rutuk Ruki dalam hati.Aoi menyuguhkan secangkir teh dihadapan Ruki.
"Kalau kau butuh bantuan,kau bisa memanggil kami berdua.Kau begitu menggemaskan,aku tak tahan untuk menjadikanmu bonekaku.Hmm..Ao,berikan dia kartu kreditku,dan beritahu pihak kantin untuk memberikan tagihan Rukichan padaku,dan beritahu seluruh anak kelas 3 bahwa bocah ini milikku.Mengusiknya berarti berurusan denganku."Uruha meniup2 kukunya dan menatap Ruki dengan ceria.
"Oke Uru."Aoi patuh.
"Dan apa maksudnya itu?"Ruki mulai jengkel. Rasa sakit diperutnya kembali terasa.
"Hmm yah,begitulah."Kata Uruha.
"Kau tidak menjelaskan apapun!.Kalau kau bermaksud menyogokku untuk tutup mulut soal insiden di toilet tadi,jangan khawatir,aku tidak akan bicara pada siapapun,tp kau tidak perlu berlebihan begitu!"
"Kau mau bicara pada seluruh dunia pun aku tak peduli."Kata Uruha dingin.Aoi menatapnya,Ruki terkejut dengan nada bicara Uruha yg berubah.
"Aku tidak peduli kau atau siapapun menghujatku dan menjauhiku.Aku tidak peduli seluruh dunia menentang hubunganku dengan Aoi.Aku bahkan ingin seluruh dunia tahu tentang cintaku padanya.Aku tak peduli.Aku hanya mencintainya,apakah itu salah?"Uruha berjalan keluar ruang Osis dan membanting pintu hingga menutup.
"Fuh..Kau menyentuh sisi sensitifnya."Gumam Aoi."Uruha,kami,tidak bermaksud menyinggungmu,tidak bermaksud menyuapmu dgn uang tutup mulut atau apa.Itulah caranya menjalin pertemanan dengan orang yg menarik perhatiannya."
"Ee..tapi aku tidak tahu.. aku.."
"Aku minta maaf atas kelakuannya.Meskipun Uruha terlihat tidak kenal rasa takut dan berkata seperti itu,sebenarnya dia paling takut orang2 mencemooh hubungan kami.Dan membuat Hizaki-sama menanggung malu karena aib ini."
Chappy 5
Ruki melamun lagi serya memandang keluar kelasnya lagi.Perasaan bersalahnya begitu kuat pada Uruha.
"Takachan,doushita no? Kau ada masalah dengan Uruha?"tiba2 saja Reita sudah duduk disebelahnya dengan khawatir.
"Iie.. Aku hanya merasa tidak enak sudah berkata kasar padanya."
Reita terkekeh.
"Jangan dipikirkan.Kau sudah makan siang?"Reita bertanya.Ruki mengangguk bohong.
"Hmm..kuharap kau tetap menepati janjimu untuk datang kerumahku hari ini.Kau sudah janji.Oh iya,kau boleh deh ajak juga si dimple itu,siapa tahu dia juga bs membantuku."
"Ah ya,dia agak2 lemot sih,tapi siswa teladan.Kalau kau mau,aku akan memberitahukannya dulu."Ruki tersenyum.
Yah,dia akan menebus kesalahannya pada Uruha nanti.
Yang penting dia terhibur dengan adanya Reita yg menganggapnya teman baik.
one step closer.
eh? step to what?
===
Reita menyusul Ruki di loker sepatu saat pulang sekolah tiba.Raut wajahnya yg ceria setidaknya mampu menenangkan hati Ruki yg sedang semerawut gara2 rasa bersalahnya pada Uruha.
"Maaf,tadi aku ketoilet dulu.Hmm..berangkat sekarang?"Tanya Reita,mengganti sepatunya.
"Ah,Aku mengajak Kai."
"Dia kemana?"
"Sebentar lagi menyusul.Kita disuruh menunggu di gerbang."
Reita mengangguk dan merangkul bahu Ruki yg memang lebih pendek darinya,mengiringnya menuju gerbang sekolah.
"Takachan,Kau baik2 saja?"
"Ya,kenapa?"
"Lehermu panas sekali."Kata Reita."Kau tidak sedang demam kan, Takachan?"
Ruki buru2 meraba lehernya sendiri.
"Tidak.Mungkin ini karena aku kepanasan memakai blazer."Ruki ngeles.
"Begitu.."
"Ah! itu Kai!" Ruki menunjuk Kai y menunggu digerbang.
"Terima kasih sudah mengajakku untuk datang."Kai membungkuk sopan pada Reita.
"Ee..Iya,terimakasih juga mau ikut bersama kami."Reita membalas membungkuk sopan.Mereka tertawa.
Rumah Reita tidak terlalu besar tp juga tidak terlalu mungil,kata Reita,ia hanya tinggal bersama Ibu dan kakak perempuannya dan neneknya tinggal didesa.Ayahnya sudah lama meninggal dunia karena sakit.Ibunya bekerja sebagai perawat dirumah sakit umum dikota itu sementara kakaknya kuliah d universitas swasta jurusan kebidanan.
"Ibuku jam segini blm pulang...Kita langsung kekamar saja sebelum perusuh datang."Ruki tahu,perusuh yg dimaksud adalah kakak perempuannya,Kathrine (in the truck hahai).
Dan Kamar Reita sangat Laki2.Berantakan dan ditempat sampahnya yg hampir membludak,banyak bungkus Kitkat betebaran.
"Sebentar.Kuambilkan minum dulu."Reita meninggalkan Ruki dan Kai dikamarnya sementara ia keluar kamar mengambil minuman.
Ruki tiba2 merasa gelisah.Udara disekitarnya mendingin dan rasa lemas yg aneh menyerangnya.
Dia lalu menaruh tasnya dilantai dan berbaring2 diatas kasur Reita.
Hmm..empuk dan nyaman.
"Ruki,kau tidak apa2? wajahmu pucat sekali.."
Ruki membuka matanya yg terasa berat.
"hmmh kai,aku hanya mengantuk."gumam Ruki tak jelas.
"Oh..ya sudah,kau tidur2an saja,biar aku yg membantu Reita mengerjakan hukumannya."
"Hm..tolong ya kai,aku ngantuk sekali.."Dan Ruki jatuh terlelap seketika.
Ia meringkuk nyaman diranjang Reita dan bermimpi sangat aneh.Badannya yg terasa pegal dan nyeri perlahan mulai rileks,hanya rasa mual dan nyeri diulu hatinya tak mau pergi juga.Ruki bergelung lagi,mencari posisi yg lebih nyaman dan benar2 merasa terlena.
"Lho,Kai, Takachan kenapa?"Tanya Reita heran melihat kawan barunya meringkuk diatas kasurnya,tertidur.
"Biarkan Ruki tidur,Rei.Sepertinya dia kelelahan."Kata Kai.Reita mengangguk dan menaruh jus yg ia bawa diatas meja.Kemudian dia mengeluarkan buku2nya,dibantu Kai yg mengajarkan dengan sabar,ia mulai mengerjakan pr hukuman kimianya sambil sesekali mengucurkan airmata tak percaya soal2nya sesulit itu.
Dua jam kemudian saat Reita meregangkan tubuhnya dan Kai menyarankan untuk istirahat sebentar,Ruki membuka matanya dan terbangun kaget.
"Astaga,maaf Uechan,aku malah ketiduran."kata Ruki yg disambut tawa kedua kawannya.
"tukang molor!"kata Reita gemas."Ah,kalian lapar tidak?mengerjakan ini membuatku lapar."
"Lumayan"Kata kai.
"Akan kupesankan pizza,kalian mau?ah iya,kalian merokok tidak,kalau iya,aku punya rokok dilaci mejaku.Sebentar ya,akan ku telepon tukang pizza dulu."Rei beranjak dari tempatnya dan Ruki bergeser turun meraih tasny
Ruki menarik keluar pack rokok yg dibawanya dan mengeluarkan sebatang lalu menyulutnya.Kai mengisyaratkan Ruki untuk membaginya yg segera Ruki berikan pack rokoknya.Keduanya sama2 menghembuskan asap rokok.Ruki mengedarkan pandangannya kesekitarnya dan matanya terbelalak saat melihat sebuah pigura foto Reita bersama seorang gadis cantik tampak mesra sekali.
Disentuhnya pigura foto itu.Reita terlihat sangat bahagia sementara gadis cantik yg rambutnya lurus panjang dicat kecoklatan tampak berusaha senang meski Ruki melihat ada rasa bosan dimata gadis itu.
Hantaman kecil kecemburuan mulai melandanya.
Sudah jelas bahwa gadis itu adalah "sesuatu" bagi Reita.Pacar? mungkin saja.Seragam yang dipakai gadis itu adalah seragam Himeno High School,sekolah musik khusus putri yg terkenal dikota itu.
"Pacar Rei,ya?"celetuk Kai,menyadari yg dipandangi Ruki sejak tadi.
"Mungkin?"
"Ckck..cantiknya.Rei pandai menggaet gadis hehe.."Kai berujar lagi.
"Iya.Gadis yg manis."komentar Ruki seadanya.
"Sepertinya siswi Himeno.Wah,disana kan hanya menerima anak yg pandai bermusik,aku iri pada Reita,aku belum pernah pacaran T_T"
Ruki terbahak keras dengan kepolosan Kai dan menjatuhkan abu rokoknya diasbak yg ditemukan Kai dikolong meja.
"Kasihan sekali kau.."
"Hei,memangnya kau pernah punya pacar juga?!"Kai bersungut.
"Hmm..Tidak juga sih."Ruki baru menyadari,dia memang belum pernah berpacaran,bahkan ia baru pertama kali merasakan jatuh cinta.Itu pun pada orang yg tak seharusnya ia cintai.
"Huu! sama saja kau!"Kai melempari Ruki dengan bungkus Kitkat yg berserakan.
"Hei!"Reita masuk kembali kedalam kamarnya sambil membawa gitar."Pizza sebentar lagi diantar."
"Rei,itu pacarmu?"Kai menunjuk pigura kecil itu.
Dan ekspresi Reita berubah menjadi lebih sendu.
"Ah,Reila Hitsugawa,mantan pacarku lebih tepatnya."kata Reita membuat Ruki kembali tersentak.
"Mantan?"
"Putus sebulan yg lalu"
"Kalian putus?Padahal kalian terlihat cocok."ujar Kai.
"Begitu ya,hahaha..Yah,dia ingin berkonsentrasi dengan sekolahnya,aku tak bs menahannya meski rasanya berat melepasnya,tapi apa boleh buat."Reita duduk diatas kasurnya dan mulai memetik gitarnya,melantunkan melodi indah ciptaannya sendiri.
"Kelihatannya kau tak bisa melupakannya."
"Aku sudah 3 tahun menyukainya,dia cinta pertamaku sejak smp dan akhirnya berpacaran dengannya selama 6 bulan sebelum akhirnya putus"
Ruki terdiam.
Rasa cintanya pada Reita masih kalah jauh dibandingkan dengan rasa cinta Reita pada gadis bernama Reila itu.Ia merasa kecil dan bodoh sekali.Perasaan sesak karena cemburu menggumpal dikerongkongannya.Ruki mengambil jusnya,dan meminumnya hingga isinya tinggal setengah.Cara terampuh menenangkan dirinya.
"Hooh..kalau dibilang masih suka ya,aku memang berharap bisa balikan lagi sih.Oh iya,nanti teman2ku akan gabung juga disini."
"Teman?"
"Hmm yah.."
Ruki terus menerus menghisap rokoknya serya terus menatap foto Reita dan gadis itu dengan pandangan aneh.Rasanya dadanya terasa terbakar.
3 tahun?
3 tahun Reita menyukai gadis dengan tampang sok ini?
Memang apa bagusnya Reila,huh!.
Tampangnya tidak cantik,aku jelas lebih manis! Lagipula dadanya juga tdk besar! *sdar diri dong Ruk,emg lu punya dada?xD*
Ruki terus mengutuki gadis mantan pacar Reita.Rokok ditangannya adalah batang kesebelas,membuat Reita mengerutkan dahinya.
"Heh Ruki,memang setiap hari begitu caramu merokok?"
Ruki mendelik jutek.
"Aku menyulut rokokku,bukan yg milikmu."
"Hei,bukan itu maksudku.Kau merokok tak henti seperti kereta api begitu.Tidak takut sakit paru-parumu?"
"Beginilah seharusnya seorang pria."
Reita dan Kai sukses ternganga.
"Tadaima,Akira-kun,ada tamu?"Seorang gadis tinggi menjulang membuka pintu kamar Reita.
"Neechan sudah pulang?"
Chappy 6
"Wah,teman2mu? Hai,aku Kathrine,kakak Akira yg paling cantik,terimakasih banyak membantu adiku yg merepotkan."Kathrine menyapa ramah.Dia mirip sekali dengan Reita,seperti Reita versi perempuan dan tanpa noseband tentu saja.Kathrine tersenyum dan mengingatkan Ruki dan Kai akan senyum ramah Reita.Kathrine sama sekali tidak feminim.Rambutnya yg panjang lurus,ia potong layer ala anak pinggiran shibuya,dan bajunya yg urakan mirip style Reita.
"Ah,hajimemashite..Kai desu."Kai membungkuk sopan.
"Ruki desu."
"Akira-kun,kau sudah pesan pizza untuk teman2mu?"tanya Kathrine.Ruki dan Kai melongo saat wanita itu menyulut sebatang rokok milik Reita.
"Sudah.Kau keluar sana! Mengganggu!"Reita menendang bokong Kathrine yg langsung mengacungkan jari tengah pada adiknya.
"Ah ya,tadi aku bertemu Reila dijalan."Kathrine berujar.
"Eh? Reila?"mata Reita membola senang.
Ruki menghisap rokoknya kuat2 dan menghembuskannya dengan gemetar.
"Dimana kau bertemu Reilachan?"tanya Reita antusias.
"Dipusat perbelanjaan.Dengan seorang pria."Kathrine menekankan kata pria hingga Reita tercengang.
"A-Ahahaha..mungkin temannya.Reila bilang ingin konsen belajar dulu dan tak ingin pelajarannya terganggu dengan menjalin hubungan pacaran."Reita menjelaskan,lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.Kai terlihat tidak mengerti dan Kathrine tersenyum mengasihani,sedangkan Ruki,non ekspresi.entah harus senang atau ikut berduka.
"Hmm yah,aku tidak mau ikut campur urusan kalian sih.Lagipula aku tak begitu mengenal si Hitsugawa princess itu."Kathrine melangkah keluar kamar Reita meninggalkan penghuninya yg terpaku oleh pikiran masih2.
"Uechan,coba kupinjam gitarmu."Ruki memecah keheningan.Reita menoleh dan memberikan gitarnya.Sesaat Ruki hanya menyetem ulang senar gitar itu dan ketika nadanya dirasa pas,Ruki memainkan lagu yg dirasa pas dngn suasana hati Reita.
Dan suasana hatinya.
"KONNICHIWA SEMUA!!!"
Ruki,Reita dan Kai terlonjak ketika seseorang membuka pintu sedemikian rupa hingga seperti mendobrak masuk begitu saja.
"Eh!"Ruki terperanjat saat menyadari siapa yg datang.
"Uru-senpai!"Lengkap dengan tshirt warna hitam yg ngepas ditubuhnya dan rok micro mini warna unggu.Rambutnya yg panjang tergerai indah,dan wajahnya cantik terpoles make up.Dibelakangnya mengikuti Aoi memakai pakaian serba hitam sehingga kesan keren begitu terpancar dari auranya.
"Ah,kalau kalian belum kenal,Ini Uruha dan Aoi,sahabatku."
Ruki tidak percaya.
Mahluk yg mengaku laki2 tapi memakai rok ini adalah sahabat Reita yg NORMAL!
"Ah,Aoi! lihat! Dolly ada disini juga!"Uruha segera melesat dan merengkuh Ruki dalam pelukan gemasnya.Wajah Kai memerah saat paha dalam Uruha terexpose jelas dihadapannya.
"Sudah uru,kau membuatnya tak bisa bernafas."Aoi menarik Uruha dari tubuh Ruki.
"Mahluk ini temanmu?!"Ruki histeris.
"Hei dolly,tidak sopan bicara seperti itu.Dan mama tidak mengizinkanmu merokok,tahu."Uruha cemberut bebek,menarik rokok yg msh mengepul dr tangan Ruki.
"..Ma..Mama?"
Uruha ganti menghisap rokok yg tadi direbutnya dari tangan Ruki.
"iya kan,PAPA?"Uruha bergantian memandang Aoi,tersenyum mengerikan membuat Ruki langsung merinding.
"Yah,dengan Aoi aku berteman dari smp sedangkan dengan banci ini,aku berteman dari awal masuk smu."Reita mencoba menenangkan Ruki yg shock berat.
"Siapa yg kau panggil banci,hah?!"Uruha menonjok lengan Reita.
"Kau itu! apa2an pakai rok seperti itu?! memangnya kau wanita hah?!"Ruki menggerung,terganggu dengan rok mini yg dipake Uruha.
"Tapi aku sexy kan pakai ini.."Uruha duduk dipangkuan Ruki,mendekatkan wajahnya kewajah Ruki serya secara perlahan menyingkap rok mininya semakin keatas hingga celana dalam pinknya sedikit terlihat.
Ruki menelan ludahnya dengan wajah membara.
"Uru,kau menakutinya.."Kata Aoi kalem diantara tawa Reita dan Kai.
Uruha tersenyum dan turun dari atas Ruki yg mendadak lemas.
"Bodoh! Bodoh!"Ruki terus menerus mengutuk Uruha yg jahil.
"Oh! Kau juga manis sekali,dimple-chan!"Uruha tidak tahan untuk tidak mencubiti pipi Kai.
"Namanya Uke Yutaka,panggil saja Kai."Kata Reita.
"Yosh!" Uruha mengangguk.
"Rei,ada Kathrine?"
"Yah,kau mencarinya,Aoi?"
"Hanya mengabsen"
Uruha terus menerus menjadikan Ruki target keisengannya,sementara Reita main gitar,Aoi dan Kai berbincang sambil sesekali meledakan tawanya.
"Ao,sudah malam.Aku harus pulang sebelum ayah mencariku.Kau menginap saja bersamaku.besok kita harus mengambil data klub sepak bola bersama."Kata Uruha ketika jam sudah menunjukan pukul 9 mlm.
"Hm yah,oke.Bantalku akan merindukanku lagi malam ini."
"Nah,murid2..Kami pulang duluan,oke.Dah~"Uruha menggenggam tangan Aoi dan berpamitan pada Kathrine yg sdg menonton tv.
"Sebaiknya kita juga pulang,Ruki.Sudah malam,besok kita harus sekolah pagi."Kata Kai,membereskan buku2nya.Ruki mengangguk.
"Kau juga mau pulang,Takachan?"
"Yah,nanti aku akan sering2 main deh."
"Kalian tidak ingin makan malam disini?"
"Aku kenyang dengan pizza tadi siang."Ruki tersenyum.
"Hhh..baiklah kalau begitu.Kai,kau kan rumahnya dekat2 sini,kau pulang sendiri,aku mau antarkan Ruki,rumahnya jauh darisini."Kata Reita.
"Eh? tidak perlu,Ue..Aku bs pulang sendiri."
"Tidak.Sekalian aku mau kesupermarket didekat rumahmu."
"Ee.."
"Rei! Masa aku pulang sendiri?"protes Kai.
"Kau kan sudah besar,harus berani pulang sendiri."
Kai tercengang namun akhirnya mengangguk.Ruki menyulut rokoknya yg terakhir sebelum membereskan brng2nya.
Ruki merasa aneh.
Seluruh tubuhnya ngilu.
Sakit sekali.
Tulang2nya,seluruhnya,terutama ditiap persendiannya.
"Ayo,Ruki!"
"Uhn."
===
Ruki membiarkan Reita membeli minuman kaleng di vanding machine sementara ia bersandar menunggu pada tiang listrik.
Entah knp sedari tadi tulang2nya serasa ngilu dan badannya lemas.
"Takachan,daijyobu?"
"Eh?"
"Kau mimisan."Reita menyodorkan saputangannya pada Ruki dan menatapnya dengan cemas.
Ruki terbelalak heran dan buru2 menghapus darah itu dengan saputangan Reita.
"Hehe..Aku tadi membayangkan hal2 jorok."Kata Ruki bohong tak ingin melihat wajah cemas Reita,nyengir polos.
"Ap-iiih! bodoh kau!"Reita memukul pelan kepala Ruki."Kembalikan saputanganku kalau sudah dicuci ya!"
"Iya..."Ruki pout.
"Lagi pula kau aneh2 saja.saat2 seperti ini malah mikir hentai"
"Ehe..yg seperti itu memangnya bisa ditahan?Seharusnya tadi dirumahmu kita nonton pink movie."Gerutu Ruki.
"Kalau kau lupa,aku akan mengingatkanmu sekali lagi kalau kita kerumahku untuk membantuku mengerjakan tugas sial dari Gackt-sensei,right,dan kau malah tidur!"
"Aku mimpi enak tadi,makanya enak tidur"Ruki nyengir lagi.Reita menggeleng2 heran.
"Aku tak tahu kau sehentai itu."kata Reita
"Aku malah bingung kau tidak punya sebuahpun majalah xxx."
"Ah,kalau ada Kathrine dirumah,yg seperti itu akan musnah dlm hitungan detik."
"Si kai punya banyak!"Ruki langsung fitnah.
"Bukannya kau yg koleksi?"
Ruki nyengir lagi sementara Reita melemparkan kopi kaleng padanya.
"Ah,kau suka sekali memberiku kopi.."Ruki membuka kaleng kopinya dan segera menenggaknya.
"Supaya kau..tidak tidur terus."Reita terkekeh sementara Ruki kembali memanyunkan bibirnya.
"Taka.."Panggil Reita dgn nada serius.
"Yaa?"
"Ayo kita pulang.Sudah malam."
Ruki mengangguk.Senyum Reita memang manis meski hampir tak jelas karena hidungnya tertutup noseband.
"Terima kasih,kau mau datang kerumahku."
"Aku tidak banyak membantu."
"Hmm yah,sampai besok.Jangan lupa cuci saputanganku!"
"Iya..Cerewet."
===
Pria setengah baya itu mencengkram kerah baju seragam Ruki dan menatapnya penuh rasa benci dan amarah.
"Kau kira jam berapa sekarang!"
"Aku membantu teman mengerjakan tugas kimianya.."Ruki berkata dengan nada bergetar.
"Kau pikir aku percaya?! membantu nilaimu saja kau tak mampu!"Pria itu menghempaskan tubuh Ruki hingga membentur lemari sepatu.
"Aku lupa! Aku lupa,sejujur apapun aku,Ayah tak pernah percaya padaku!"Gumam Ruki kesal.Ia berusaha bangkit.Tulangnya serasa remuk.Lengannya yg membentur lemari memar.Rasanya sakit sekali.
DUAKH!
Dan sekali tonjokan dipipi Ruki,Ayahnya kembali masuk kekamarnya.
Ruki menyeka darah yg mengalir dari hidungnya.Ia bangkit dan berjalan tertatih menuju kamarnya.
Rasa sakit akibat pukulan itu memang tak seberapa.tapi ada perih lain dihatinya yg membuat nafasnya begitu memburu dan emosinya meledak.Rasa kesal karena ia tak bisa melawan orang tua yg dipanggilnya ayah.
"Kuso!"
Chappy 7
Hujan deras dipagi hari membuat siapapun malas untuk melakukan kegiatannya hari itu.
Tak terkecuali Ruki.
Ruki mengeliatkan tubuh mungilnya dengan malas.Alarm hpnya telah berbunyi lebih dari sekali dan cukup untuk membangunkannya meski cuaca mendukung untuk membuatnya meringkuk lebih dlm bola selimutnya.
"Hujan.."Gumamnya perlahan,matanya memandang keluar jendela.Memandangi hujan itu untuk beberapa saat,Ruki mengambil handuknya dan masuk kedalam kamar mandinya.
Dicermin wastafel,terlihat jelas lebam bekas tonjokan ayahnya semalam.Pipinya jd terasa lebih chubby.
"Huh,harusnya tak perlu sampai meninggalkan jejak diwajah dong.Kalau teman2ku tanya dan aku jawab jujur,mukamu yg akan menanggung malu."Ruki terus menggerutu serya mencuci wajahnya.Tiba2 saja ia teringat saputangan Reita yg berlumuran darahnya.
Kemarin itu saat bersama Reita,ia mimisan karena apa? seingatnya itu jarang terjadi padanya sebelumnya.
Memikirkan apa yg tidak kita ketahui adalah hal yg paling memuakan seumur hidup.Ruki juga berpendapat demikian dan segera mengakhiri kegiatan cuci muka gosok giginya dengan memakai seragam sekolahnya.
Lebam kebiruan itu masih menganggunya,tapi Ruki lebih memilih mencuekinya.
"Hujannya tambah deras."Gumamnya.Ayah dan ibunya telah membawa payung mereka masing2 ketempat kerja,dan Ruki memang tidak memiliki payung,hanya terpaku didepan rumahnya.
Ujung celana panjangnya terciprati air hujan hingga agak kuyup.
"Masa aku harus bolos?"
"Ruki!"
Ruki mendongkak pada seseorang yg memanggilnya.
Aoi-sama,Penguasa sekolah,mengendarai motor menggunakan mantel hujannya.
"Kenapa tidak berangkat?"Teriak Aoi mengalahkan suara hujan.
"Gak ada payung!"Ruki menjawab.Aoi turun dari motornya dan membuka bagasinya.
"Pakai itu,dan naiklah.Kita bisa telat."Aoi melemparkan mantel hujan cadangan pada Ruki yg terkesima.
===
Aoi menurunkan Ruki tepat dilobi utama,mengisyaratkan Ruki agar masuk kedalam sementara ia memarkirkan motornya disebelah mobil Uruha,tempat parkir khusus kepala sekolah.
Ruki membuka mantelnya dan merapikan dirinya yg tak benar2 kering,tapi setidaknya ia tidak basah kuyup.
"Oh,kau bisa mengambil handuk di ruangan Uruha."Kata Aoi,sementara ia pun sama berantakannya.
"Hm.Aoi-san,terima kasih sudah memberiku tumpangan."Ruki membungkuk hormat.
"aku akan dibunuh uruha kalau tak melakukannya."Aoi angkat bahu.Ia berpamitan pada Ruki dan berjalan menuju kelasnya sementara Ruki masih mengusap2 rambutnya sambil memakai sepatu putihnya.
"Dolly~"
Uruha tiba2 muncul dr belakang Ruki,mengagetkannya.
"Uru-senpai!"
"Just Uru.Oh dolly,lihat! kau terlihat seperti tikus tercebur got."Uruha menyerengai.
"Sial."Ruki mengutuk pelan.Matanya jatuh pada sosok Uruha yg berdiri dihadapannya dgn sikap sok imut.
"Ck.. Yang benar saja kau,hujan2 begini pakai rok mini.Tidak dingin?"Ruki memandang sinis kaki jenjang Uruha yg dibalut Loose shok sebatas lutut sementara pahanya terekspose seperti biasa,rok micro mininya sengaja dibuat lbh pendek dari batas minimal rok siswi disana sehingga Ruki bisa menduga kalau Uruha membungkukan tubuhnya,orang2 bs melihat underwearnya.
"Tidak.Kalau pakai rok panjang kan ribet.."Kata Uruha polos.
"Maksudku kenapa kau tidak secara normal saja pakai celana panjang.Aneh."
"Hei,orang sepertiku lebih cocok pakai rok mini dari pada pakai celana panjang.Akuilah.."Uruha menarik Ruki dan menatapnya serius.
"A-apa?"
"Pipimu kenapa?"tanya Uruha menyentuh pipi Ruki yg lebam.
"Menurutmu kenapa?"
"Terlihat seperti dihajar seseorang dengan kekuatan penuh."
"Anggap saja begitu."
"Kau berkelahi? Reita tidak mengantarmu pulang kemarin?"
"Mengantarkan kok."
"Sampai kerumah?"
"Sampai kerumah."
Uruha tak yakin.
"Reita yg memukulmu?"tanya Uruha ragu.
"Apa kau gila?Reita tak mungkin seperti itu."
"Kalau begitu,katakan darimana kau mendapatkan luka itu,karena sebagai ketua osis,aku tidak akan membiarkan siapapun melukai siswa sekolah ini."
Ruki tersenyum menenangkan dan menepuk bahu Uruha.
"Bukan masalah besar,Uru..Anggap saja aku terjatuh ditangga dengan pipi mendarat duluan."
"Eh?!"
"Aku tahu memang mustahil,tapi itulah yg terjadi.Jangan khawatirkan aku.Sebaiknya kau mengkhawatirkan rokmu,lihat,beberapa siswa mencoba mengintip underwearmu!"Ruki terbahak dan berlari menuju kelasnya sementara Uruha menutupi bokongnya tempat para murid mencoba mengintip dengan wajah memerah.
"SUKEBEEE!!! CEPAT MASUK KEKELAS KALIAN MASING2! WTF!"Uruha meledak marah dan mengusir gerombolan pengintip itu dengan lengkingannya yg tinggi.
Ruki meletakan kepalanya diatas meja dan menatap 2 meja didepan kanannya.
Meja Reita.
"Ruki,daijyobu?"Shou bertanya,menepuk bahunya.
"Daijyobu da yo.."Ruki menjawab pelan.
"Eeh?Hontou ka?"Shou duduk dihadapannya,mengabaikan Hiroto yg berteriak2 meminta bantuannya karena dikelikitiki Saga dipojok kelas.
"Memangnya kenapa,Shou?"Tanya Ruki.
"Pipimu lebam gitu.Kau berkelahi?"
Ruki menyentuh pipinya yg lebam dan menghela nafas.Rasa sakitnya sudah tak terasa lagi,tapi tanda memarnya tak hilang juga.
"Yah,memang ada yg menonjokku."Kata Ruki pelan.Mata Shou membulat dan terbelalak ngeri.
"Siapa?!Jahat sekali sudah menghajarmu sampai seperti itu!"
"Siapa menghajar siapa,Shou?"
Reita berdiri dibelakang Ruki dengan pandangan dingin.
"Ah,Reita-kun.Ada yg menghajar Ruki sampai seperti itu.Lihat."
TSUZUKU... (untuk waktu yang lama) xDa
A/n: Ficc ini dibuat dalam kondisi kejiwaan saya yang benar2 lagi ada di titik terbawah. Saat itu saya ngederin lagu CHIZURU-nya The Gazette dan Kodou-nya Dir-En-Grey dan baru bisa merasa lebih baik setelahnya.
Mungkin ficc ini ngebosenin dan feelnya kurang kerasa, karena saya ngerjainnya pake hape, sering diganggu dengan jaringan yang WTF dan sms atau tlp masuk. Kelanjutannya akan saya selesaikan dalam 7 chapter *plak* ehe...
karena masih banyak cerita yang harus dialami si Ruki n Reita ini Muahahaha *tawa nista*.
Ficc ini juga Dipersembahkan untuk Alm. Valentinus Pramudi (02-07-1990 - 15-08-2010) alias Orange-kun, karakter Ruki dan kisahnya difanfic ini 80% berdasarkan kisah hidup beliau,teman seperjuangan yang manis dan bikin orang gregetan.
Perjuanganmu udah selesai sobat, semoga mendapatkan tempat terbaik disisi-NYA, We always love you till our end T,T
Yang ga suka di tag, remove aja ^^
KOMEN PLEASE^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar